Laman

Rabu, 30 September 2015

Java Jazz 2013

Sobat jazz pasti sudah tidak asing lagi dengan event tahunan Java Jazz yang dilenggarakan di Jakarta ini, tidak hanya penampilanya yang memukau tetapi suasana juga penonton yang sangat antusias menambah kehangatan Java Jazz ini.
Ini saya lampirkan lagu - lagu di event tahunan tersebut silakan download lagu jazz nya.

Dave Koz ft. 57 Kustik - You Make Me Smile
Ran - Nothing Last Forever
IYR - Bento

Sabtu, 19 September 2015

Solo City Jazz 2015



Solo City Jazz tidak terasa sudah memasuki penyelenggaraan yang keenam kalinya. Sejak dimulai pada penyelenggaraan edisi pertamanya di tahun 2009, Solo City Jazz (SCJ) ternyata sudah melewati 7 tahun perjalanannya. Dimana pada 2010, sempat terpaksa ditiadakan, lantaran musibah letusan gunung Merapi.
Sejauh ini, SCJ terus berupaya mempertahankan konsep dasarnya, yang sudah menjadi landasan dasar sejak awal yaitu, guyub, akrab dan menghibur. Menghibur siapa? Siapa lagi kalau bukan para penonton, yang notabene adalah warga masyarakat kota Solo dan sekitarnya. Dan karena senantiasa disajikan secara gratis, tentulah diharapkan menghibur semua kalangan. 
Mempertahankan bentuk sebagai arena pertemuan seluruh warga masyarakat, untuk semua bisa hadir dan sama-sama menghibur diri. Sajian hiburan musik yang melepaskan kepenatan, menjauhkan kegalauan hati dan menyejukkan pikiran. SCJ memang bisa diibaratkan suplemen untuk menambah gairah hidup dan vitalitas!
Dan adalah jazz, sebagai ramuan dasarnya. Nah, jazz yang bagaimana? Jazz yang dijaga betul untuk jangan berjauhan dengan keberadaan Solo sebagai kota budaya, kota batik, kota yang ramah. Senantiasa diupayakan menjadi suatu alternatif musik hiburan. Jazz menghibur, kenapa tidak?
Salah satu upaya untuk mengemas jazz, yang seringkali dianggap musik yang rumit, berat dan tak mudah dicerna, menjadi musik yang bisa mudah ditangkap telinga dan dinikmati oleh hati semua orang. Ya, harus semua orang bisa mengapresiasi, tanpa terkecuali!
Perwujudannya, tergambar dari keberagaman musik yang dihidangkan, pada setiap tahun penyelenggaraannya. Itu pula yang juga terasa pada penyelenggaraan di tahun 2015 ini. Beragam, dengan tak melupakan keunikan dan kwalitas. Ini tanpak pada pilihan yang diundang untuk tampil memeriahkan SCJ 2015 ini.
Bengawan Symphony Orchestra misalnya. Ini orkestra, yang terdiri dari para musisi muda, siswa sekolah dan kursus musik di Solo dan sekitarnya. Bayangkan saja, sebuah orkestra anak-anak muda melakukan interpretasi terhadap jazz, I Know You Well Miss Clara. Grup ini datang dari kota Yogyakarta. Musik dasarnya progresive yang kental nuansa illustratif elektronik. Jazz nan progressive kreasi anak-anak muda Yogyakarta, yang telah disebarluaskan ke dunia internasional. Album mereka, Chapter-One, diedarkan ke seluruh dunia oleh label internasional yang bermarkas di kota New York, Moon June Records.
Lalu datang dari kota hujan, Bogor. Gadis belia, penyanyi dan bermain alat musik pula, Selma namanya. Ia akan berkolaborasi dengan Kyra. Sebuah Kolaborasi musisi generasi masa depan. Tentu saja, layak untuk dinikmati dong! Berikutnya ada pula nama yang relatif senior, Ivan Nestorman. Ivan, penyayi dan gitaris berdarah Nusa Tenggara Timur. Musiknya juga tak kalah uniknya. Apalagi Ivan juga berpengalaman bermain di banyak negara!
Kalau disebut nama Gugun Blues Shelter, rasanya sih siapa yang tak kenal dari trio blues masa kini ini.yang juga berpengalaman bermain di depan khalayak internasional, dengan tampil di pelbagai panggung musik dunia di berbagai negara.
Tidak hanya itu,  nama yang datang dari Bandung apsti sudah bisa ditebak jalur keunikannya. Mereka adalah para pengamen jalanan, yang telah dibentuk dengan intens oleh alm. Harry Roesli. Sepeninggal ayahnya, yang adalah salah satu ikon penting musik kontemporer mbeling kita, kedua putra almarhum melanjutkan kepedulian sang ayah. Si kembar Lahami Roesli dan Layala Roesli meneruskan pembinaan atas kelompok yang bernama 57Kustik ini.
Selain 57Kustik yang akustikan itu, ada juga para musisi muda bertalenta, asal ibukota. Mereka menyuguhkan kreasi musik mereka, yang kental banget aroma progressive fusion. Dimana. jazz, blues, rock sampai metal menjadi bahan dasar ramuan bermusik mereka. Van Java namanya. Mereka tengah menyiapkan album rekamannya, setelah ikut meramaikan album kompilasi fenomenal, Indonesia Maharddhika. 
Satu nama, juga perempuan belia. Multi talenta, dan kini berdomisili di Bali. Vickay namanya. Ia musisi multi instrumentalis yang pandai pula menyanyi. Wajahnya rupawan pula! Calon bintang masa depan potensial ini, sudah berani membawakan lagu karya sendiri. Iapun juga punya talenta sebaai pelukis! Album perdananya telah dirilis awal tahun ini, yang memperoleh respon positif di berbagai kota, terutama Jakarta dan Bandung. Janganlah menyesal, kalau luput menikmati penampilannya!
Ini 2 sahabat, begitu kesohor sebagai penyanyi dan penulis lagu ternama, terutama di era 1980-an. Tapi sampai sekarang sejatinya, nama mereka tetap saja eksis, sebagai bintang pujaan banyak kalangan penggemar musik, terutama jazz(y) dan pop. Ingat dong dengan 2-D? Yup, Dian Pramana Poetra dan Deddy Dhukun. Dan publik Solo mudah-mudahan belum lupa, keduanya juga ikut meramaikan SCJ edisi pertama di 2009 silam.
Mereka sukacita untuk memenuhi undangan tampil kembali memeriahkan SCJ di tahun ini. Dimana kali ini, mereka akan didukung oleh kelompok jazz-fusion yang bolehlah disebut, nama baru muka lama. Publik penggemar musik jazz(y) harusnya sih akrab dengan nama Clorophyl. Mereka juga bak “tuan rumah” di ajang SCJ, karena nyaris saban tahun tampil. Nah Clorophyl itulah yang seolah ber-metamorfosa mejadi Sopana Sokya, begitu nama yang mereka pilih saat ini.
Pecas Ndahe! Bukan salah tulis kan? Pecah Ndase? Keusilan nama mereka sudah seperti menggambarkan “keusilan” karya kreatif mereka dalam bermusik. Kelompok muda berpenampilan seru ini, pastinya sudah dikenal akrab penggemar musik Solo. Mereka dengan “usil sekaligus nakal” melakukan re-interpretasi terhadap jazz, selain macam-macam musik lain. Tentulah diharapkan mereka akan lebih memanaskan pentas SCJ di tahun ini. Oho!
Tak hanya nama-nama itu saja, yang akan mengisi panggung utama SCJ 2015. Ada nama-nama muda lain, juga bibit-bibit berbakat, dan datang dari berbagai kota. Seroja dari Pekalongan, misalnya. Jazz, Clssica & Concerta dari Salatiga. Kyra Entertainment, Ebuzz, Starfive, dari kota Solo. Selain Jakarta Ska Foundation, dari ibukota. Mereka akan mengisi panggung Musik Asyik SCJ 2015.
Ya, teristimewa di tahun ini SCJ akan menyajikan 2 panggung. Untuk mempertebal unsur keberagaman jazz, yang “ditemani” unsur-unsur musik lain. Tetap saja dong, konsisten dengan niat dasar yang adalah, menyodorkan tontonan hiburan alternatif yang menyehatkan dan menyegarkan!
Marilah menyambut kembali Solo City Jazz di tahun 2015 ini. Yang akan diadakan pada 18 & 19 September di Taman Balekambang. Tetap diadakan oleh C-Pro Jakarta, yang adalah penggagas dan pembuat konsep festival ini. Dengan didukung oleh local-organizer, Mataya art&heritage, partner tetap sejak SCJ 2009.

Salam Solo City Jazz !!

Enjoy Jakarta Jazz Festival



Bertempat di Plaza Barat Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Enjoy Jakarta Jazz Festival akan menyuguhkan sederet musisi ternama seperti Ireng Maulana, Andien, Shandy Sandoro, Reza Artamevia, hingga Syaharani. Digelar akhir pekan ini, Sabtu (19/9/2015), Enjoy Jakarta Jazz Festival 2015 terbuka gratis untuk umum.

Tak ketinggalan, nama lain seperti Teza Sumendra, Andita, Beben Jazz, hingga Yuyun George & Jazmint Brassband ft Lana Niti Baskara juga akan turut serta meramaikan acara persembahan Dinas Pariwisata DKI Jakarta itu.

Dalam jumpa pers di fX Plaza, Senayan, Rabu (16/9/2015) salah satu pengisi acara, Syaharani mengaku senang bisa terlibat di acara tersebut. Menurutnya meski baru pertama kali digelar, festival jazz gratis tersebut akan memberikan suguhan yang menjanjikan.

“Jazz musik pergaulan yang sudah diakui di seluruh dunia. Saya pikir bisa jadi kegiatan yang menghangatkan warga Jakarta,” kata Syaharani yang dijadwalkan tampil selama kurang lebih 45 menit. “Saya akan main dengan membawakan lagu-lagu cinta bersama dengan Indro Hardjodikoro,” terangnya.

Selain panggung musik, Enjoy Jakarta Jazz Ferstival 2015 juga akan menyuguhkan sajian kuliner. Di antaranya adalah Jajanan Street Food Khas Nusantara, Food Truck Kuliner dan Pasar Santa Food Festival.




Enjoy Jakarta Jazz Festival !!

Konser Duo Peirani Parisien


Institut Prancis di Indonesia (IFI) mempersembahkan penampilan kelompok musik jazz asal Prancis Duo Peirani-Parisien di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali pada 21-25 September. Di Yogyakarta IFI mengajak kerjasama Jazz Mben Senen, Bentara Budaya Yogyakarta dan WartaJazz, konser akan diadakan pada hari Senin, 21 September 2015 pada jam 20.30, sebelumnya akan diselenggarakan workshop instrumen musik tiup pada hari yang sama pada jam 18.30, Bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta.

Duo Peirani-Parisien terdiri Vincent Peirani (akordeon) dan Emile Parisien (saksofon sopran). Keduanya meraih Penghargaan Django Reinhardt dan Penghargaan Victoires du Jazz tahun 2014 dan 2015. Menampilkan sebuah dialog musikal dengan komposisi yang kreatif dan unik, duo ini mengemas musik jazz lawas komposisi ternama seperti Sydney Bechet, Henry Lodge, Irving Mills, Duke Ellington, dengan sentuhan modern. Seniman muda dengan gaya radikal modern ini menampik jika musik jazz sekarang menjadi musik museum.

Akordeon: Vincent Peirani
Di usia remaja sepanjang kurun waktu 1994-1998, ia meraih banyak penghargaan internasional untuk akordeon klasik, antara lain Klingenthaler Accordion Competition(Jerman), Trophée Mondial Cassino (Italia) dan kompetisi akordeon internasional Reinach di Swiss. Puncaknya, ia meraih posisi terbaik untuk kategori akordeon klasik di kampus paling prestisius; Conservatoire National Supérieur de Musique de Paris pada tahun 1996.

Persentuhannya dengan musik jazz pada usia 16 tahun diawali dengan kegandrungannya pada karya-karya Bill Evans dan kelompok band jazz-rock asal Prancis, Sixun. Skeptisme awalnya pada instrumen akordeon yang ia pilih sendiri kemudian justru terjawab dengan sebuah kemenangan dalam La Defense Jazz Competition tahun 2003. Dari sinilah pintu kolaborasi dengan para maestro musik jazz Prancis mulai terbuka. Albumnya antara lainMesolex (2008), Gunung Sebatu (2009) dan EST (2010).

Saksofon: Emile Parisien
Saksofonis kelahiran 1982 ini mendapat pendidikan musik sejak dini di Marciac College di bawah bimbingan Pierre Boussaguet, Guy Laffitte dan Tonton Salut. Setelah menyelesaikan pendidikan musik klasik dan kontemporer di Conservatoire de Toulouse, tahun 2000 Emile Parisien hijrah ke Paris dan menggelar konser di Prancis dan luar negeri bersama musisi-musisi ternama. Tahun 2004 ia berpartisipasi dalam pertunjukkan HIP 11 yang memadukan musik jazz dan tari hip-hop. Di tahun yang sama, ia membentuk Emile Parisien Quartet bersama Julien Touery (piano), Sylvain Darrifourcq (drums) dan Ivan Gelugne (double bass).

Tahun 2007, Emile Parisien mendapat penghargaan Talent of Jazz dari Fond d’action Sacemselama tiga tahun berturut-turut. Setelah tahun 2012 ia terpilih sebagai musisi Prancis terbaik oleh Académie du Jazz, dua tahun kemudian bersama Vincent Peirani meraih penghargaan “the Victoires de la Musique” untuk rekaman duo mereka bertajuk Belle époque.

Info lebih lanjut :

KONSER:Senin, 21 September 2015
Pukul 20:30
Bentara Budaya Yogyakarta
GRATIS!

WORKSHOP instrumen musik tiup:
Senin, 21 September 2015
Pukul 18:30
Info: Anggri (+62 898 5167 729)